Lebaran dalam Kengerian Konsumtif

Kengerian itu datang lagi, saat menjelang Lebaran. Kenaikan harga kebutuhan pokok, jasa transportasi dan lainnya menjelma kengerian yang meringkus masyarakat. Hampir semua orang tak dapat lolos dari kengerian itu, demi merayakan Lebaran secara konsumtif.


Yang ada dalam pikiran setiap orang, bukan lagi keindahan spiritual dan sosial Lebaran, melainkan upaya mencari uang sebanyak - banyaknya untuk merayakan Lebaran dengan mewah.

Nilai spiritual-sosial yang dikandung dalam Lebaran (kemenangan melawan hawa nafsu, penyatuan diri dengan Allah SWT, silaturahmi dan solidaritas sosial) mendadak tergeser dan tergusur oleh konsumerisme. Kekhidmatan, kesederhanaan, kesahajaan, kepantasan dan kewajaran, yang menjadi basis perayaan kemenangan melawan hawa nafsu seusai menjalankan ibadah puasa Ramadhan, telah berubah menjadi kemewahan hedonistis. Materialisme dan hedonisme pun dirayakan secara berderap - derap. Seolah, pada hari Lebaran itu semua hasrat dan nafsu harus diekspresikan secara total, guna menebus rasa lapar dan haus puasa.

Pertanyannya, kenapa puasa cenderung berhenti sebagai ritus agama? Bukankah agama semestinya menjadi dasar dan orientasi nilai di dalam mengembangkan potensi - potensi kesalehan personal dan kesalehan sosial? Bukankah, melalui puasa Ramadhan, setiap orang semestinya menemukan kelahirannya kembali sebagai manusia yang bersih dan suci? Yakni, manusia yang mampu mengatsi segala godaan psikologis-biologis dan pamrih kebendaan, sehingga mampu menjadi (mendekati) insan kamil?

Agama dengan seluruh hukum dan rukunnya selalu ideal sebagai jalan penyelamatan bagi pemeluknya. Begitu pula Islam, namun, dalam konteks sosial, politik, ekonomi dan budaya, agama tidak bisa hanya berhenti sebagai ajaran moral dan etis. Setiap pemeluk agama dituntut kecerdasan dan kearifannya untuk melakukan break down ajaran agama menjadi panduan perilaku. Di sini, tampak ada alur yang terputus, karena agama cenderung dipahami hanya sebagai ritus. Akibatnya, potensi nilai - nilai agama pun membeku. Jika kesalahan itu terbangun, maka lebih bersifat personal daripada sosial.

Ukurannya bisa sangat sederhana. Misalnya, apakah dengan rajin dan taat menjalankan ibadah puasa Ramadhan, orang kemudian tidak lagi tergoda untuk korupsi atau tidak larut dalam langgam konsumerisme? Kenyataan membuktikan, angka korupsi di negeri ini tetap tinggi. Begitu pun juga dengan konsumerisme. Bangsa ini membutuhkan agama yang konstektual, yakni pengamalan secara konkret dan holistis nilai - nilai agama di ranah sosial, ekonomi, politik dan budaya.

Di negeri ini, Lebaran terasa sangat mahal. Ini terjadi karena momentum Lebaran telah tersandera oleh kapitalisme. Lebaran telah dikapitalisasi untuk meraup keuntungan. Akhirnya, ukuran yang berlaku adalah kebendaan (konsumsi) dan hiburan. Lihatlah di televisi, naluri konsumtif publik dipompa kuat - kuat. Bahkan, agama pun telah dijadikan komoditas hiburan.

Celakanya, para penyelenggara negara lebih banyak diam. Bahkan malah merestui kapitalisasi agama. Begitu pula dengan Lebaran. Ini tidak aneh, karena rezim yang berkuasa saat ini adalah agen liberalisme dan kapitalisme. Para penyelenggara negara cenderung hanya menjadi panitia pasar bebas. Tak ada niat untuk memproteksi warga negara dalam menghadapi serbuan membabibuta kapitalisme dan liberalisme.

Celakanya lagi, para penyelenggara negara ternyata juga tidak kunjung mampu menjadi pelayan publik yang baik. Mereka bahkan cenderung absen dalam persoalan - persoalan publik. Misalnya, dalam konteks Lebaran, para penyelenggara negara mestinya secara optimal melakukan peningkatan pelayanan melalui perbaikan infrastruktur, sarana transportasi, fasilitas publik, menekan harga kebutuhan pokok agar tidak melambung tinggi dan seterusnya. Namun apa yang terjadi? Sekali lagi, negara cenderung 'angkat tangan'.

Kita akhirnya dipaksa untuk maklum bahwa negara tidak bisa lagi diharapkan melindungi publik dari terkaman kapitalisme. Maka, salah satu cara strategis untuk melawan kapitalisme adalah membangun perilaku yang tidak konsumtif, baik secara perorangan maupun kelompok. Definisi perilaku tidak konsumtif adalah mengukur konsumsi dari tingkat kebutuhan, bukan dari keinginan. Selama ini, keinginan itulah yang dipompa kapitalisme.

Kita tidak anti pasar, namun lebih dituntut cerdas menghadapi pasar. Saya membayangkan perlawanan itu akan menjadi kekuatan besar jika mayoritas warga negara melakukan tindakan asketis atas konsumerisme. Begitu pula dalam Lebaran tahun ini.

0 Response to "Lebaran dalam Kengerian Konsumtif"

Posting Komentar