Nenas Kualu Terasa Seperti Madu

Jika anda berkesempatan bepergian dari Pekanbaru menuju Bangkinang, Kabupaten Kampar, bersiap - siaplah menghadapi jalan lintas Sumatera yang panjang lurus dan berdebu. Pemandangan tanah kering sepanjang jalan seperti ini, mengingatkan kita pada lomba reli Paris-Dakkar.


Pekanbaru-Bangkinang berjarak kurang lebih 65 km, dan dalam kondisi normal, ditempuh dalam waktu 1,5 jam. Ketika meliput pertandingan PON di Bangkinang, saya menyusuri Jalan Rimbo Panjang dan Kualu Nenas. Di sepanjang jalan ini, kita disuguhi keberadaan pondok - pondok nanas di tepi jalan. Disini, nanas (di Kampar disebut nenas) merupakan buah yang sangat populer. Buah ini seperti tak mengenal musim.


Ya, di sepanjang jalan ini, nanas banyak dijumpai. Di Desa Kualu, Kampar, nanas dibudidayakan sebagai bagian dari mata pencaharian warga setempat. Tak heran jika kebun nanas menjadi ikon Desa Kualu. Mungkin karena dikenal sebagai pemasok nanas, jalan yang melewati Kualu disebut Jalan Kualu Nenas.


Penjualan nanas di sepanjang jalan di Kualu, menarik minat pembeli. Pasalnya, mereka menata nanas sedemikian rupa, sehingga membuat orang tertarik untuk mampir. Dari kejauhan rentetan nanas dipajang dan tergantung di pondok - pondok pedagang. Pondok - pondok itu, biasanya milik pemilik kebun. Tetapi ada juga milik perantauan yang sengaja datang ke Kampar, untuk berjualan nanas.

Perkebunan nanas milik warga setempat
Pondok - pondok itu selalu ramai sejak pagi sampai sore. Biasanya para pembeli sengaja turun membeli, sebagai oleh - oleh atau hidangan di perjalanan. Ukuran nanas Kualu memang relatif sedang - sedang saja. Tak terlalu besar maupun kecil, sehingga pas dibawa sebagai oleh - oleh.

"Keistimewaan nanas Kualu, buahnya tak begitu besar, dan dipanen dari tanah alami. Rasanya manis, seperti manis madu dan renyah jika dimakan, juga sedikit kandungan airnya. Setelah dipetik dan dismpan selama lima hari, nanas tetap tahan dan tak membusuk, asal tak terkena air," ujar Agus, yang berjualan nanas di wilayah itu.

Pemuda asal Aceh itu baru sekitar tiga bulan datang ke Kampar. Dia sengaja berjualan nanas, karena dianggap prospektif. Agus membeli nanas - nanasnya langsung dari Desa Kualu. Biasanya dengan menggunakan jasa mobil pikap yang disewa Rp 60 ribu sekali angkut, sejak pagi Agus sudah jualan nanas di pondoknya.

Menurut Agus, pada hari - hari biasa, dia bisa menjual 50 - 60 butir. Namun dia mengaku, saat ada PON XVIII ini, penghasilannya naik, karena perharinya bisa menjual 100 sampai 120 butir atau dua kali lipatnya. "Lumayanlah ada keuntungan. Untuk sementara saya hanya berdagang saja. Ada juga teman yang tidak hanya menjual, tapi juga bikin keripik nanas," kata Agus.

Di Desa Kualu Nenas, buah nanas dijual dalam bentuk buah segar dan olahan. Produk olahan berupa keripik nenas, wajik, dodol, sirup dan minuman segar. Tetapi yang menjadi produk utama dan dijual terus adalah, keripik nenas. Sedangkan yang lainnya, berdasarkan permintaan. Buah segar biasanya dijual dengan gerobak, ke pasar atau hotel - hotel di Pekanbaru. Sedangkan olahan biasanya disetor ke Megarasa, pusat kuliner di Pekanbaru.

Di desa ini, kini menjamur home industry yang memproduksi olahan nanas. Dari sebuah nanas, menuntut orang untuk kreatif. Nanas telah menjadi bagian perekonomian bagi Kampar khususnya, dan kota Pekanbaru.

0 Response to "Nenas Kualu Terasa Seperti Madu"

Posting Komentar